Minggu, 15 Desember 2013

Terpapas sebuah gambaran nyata tentang diriku dulu disanalah aku melihat masa depanku kelak. Seorang bocah kecil yang riang, tak henti-hentinya merengek minta mainan, bergerak lincah bagaikan macan yang mencari mangsa, yang tak pernah mengenal arti malu. Hahahaha…. Indah sekali saat-saat seperti itu, ingin sekali aku mengulang masa-masa kecil ku. Namun kini aku harus membuat rancanganku sendiri, penerusku dan penerus garis keturunan keluargaku. Beban ini harus aku pikul, aku akan mempersiapkan semuanya sebelum aku menggambar garis kehidupan baru.

Garis-garis ini akan membentuk sebuah masa depan yang cerah dan tak akan pernah ada cahaya yang mampu menandinginya. Dialah malaikat kecil yang nantinya akan menjadi juru terang pada generasinya, ia akan bersinar bagai mentari. Dan dia akan menjadi lentera baru dalam keluargaku.
Terbalas sudah semua usahaku, terhapus hilang seluruh egoku, tak mungkin aku bisa melakukan ini tanpamu. Terlarut dalam kebahagiaan yang dalam, semua ini kutulis dengan hati yang tulus tanpa tekanan ataupun paksaan. Aku bangga bisa mengukir sejarah ini bersamamu, kelak kita akan mengukir lebih banyak sejarah bersama. Bersamamu aku bahagia, semua karena pengorbananmu yang begitu besar untuk semua ini.
Tak lepas dari semua itu, aku ingin selalu bersamamu, bahkan maut tak akan mampu memisahkan duniaku dan duniamu, karena kita bukan dua melainkan satu. Apa yang telah dipersatukan Tuhan takkan bisa dipisahkan oleh manusia. Tuhan telah menciptakanmu dengan salah satu tulang rusukku. Kaulah salah satu tulang rusukku yang hilang itu. Tuhan mengambilnya untuk menciptakan pelengkap dalam kehidupanku.
Kita memang berbeda, tetapi karena kita beda, kita adalah istimewa. Tidak berarti perbedaan yang signifikan ini tak dapat dipersatukan. Jangan ada rasa khawatir dalam dirimu, semua ini akan segera bersatu seperti apa yang kita cita-citakan.

Kita akan memiliki keluarga kita sendiri, dan kita akan melihat anak cucu kita berlarian di taman bunga yang indah. Kita akan menceritakan semua pengalaman masa muda kita pada anak cucu kita, tentang kita berdua, tentang kenakalan kita berdua. Bukankah demikian, kemudia kita akan menggemuk bersama, mengurusi ladang kita. Dan kita akan dikuburkan bersebelahan di tengah taman bunga yang indah di pekarangan yang megah.

Selasa, 03 Desember 2013

Awal bulan ini dimulai dengan awal yang buruk, realita yang harus aku haadapi. Lentera itu kini kian meredup, dan aku harus berusaha supaya lentera itu tetap dapat menyala menerangi hidupku kalaupun bisa aku ingin membuat lentera itu semakin terang menyala menerangi jalanku di lorong yang gelap.
Aku tidak lagi hanya bermain api, tapi aku telah membasahi api itu dengan bensin. Semua berawal dari kecerobohan dan sandiwara yang aku buat-buat demi mempertahankan hubunganku. Seiring berjalannya waktu semua itu terkuak dari pernyataan seorang sahabatku sendiri. Tapi tak apa, aku sekarang menjadi lebih memahami arti penting sebuah kepercayaan dan arti dari sebuah cinta sejati. Semua itu tumbuh dari hati, bukan tiba-tiba muncul dengan disengaja.
Hampir malam ini aku kehilangan segalanya, segala yang aku miliki yang telah tertanam dalam dalam hati seorang bidadari. Bahkan dia telah dihadapkan pada empat hunian hati yang mungkin lebih baik dari pada gubuk hati ini. Namun ketika aku telah membuka kunci hati ini yang sebenarnya tak rela, dia menjawab “Bahagiaku sama kamu kok J”. Kata-kata itu menyejukan namun bisa cukup membuatku berfikir keras dan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya agar tetap singgah di dalam gubuk kecil ini. Pengorbananmu teramat besar untuk semua ini, tak bisa aku membalas semua kebahagiaanmu yang telah engkau korbankan demi manusia bodoh ini.
Aku berharap permasalahan ini hanya sebuah batu karang kecil yang dapat dimusnahkan dengan palu tekad yang keras. Tidak akan ada lagi karang-karang penghalang pelayaran hubungan kita. Aku akan membawa perahu ini jauh lepas di tengah lautan luas yang tak akan ada karang dangkal yang akan kita hempas. Meskipun aku mengetahui akan ada badai besar yang akan lebih sering menghempaskan perahu kita. Tapi dengan ribuan tekad yang membara, aku akan membawamu keluar dari badai itu. Dan kelak nantinya kita akan menemukan kebahagiaan kita berdua.
Berada di tengan pulau nan indah dimana hanya ada kita berdua dan tak akan pernah ada yang mengusik. Aku akan membangun bahtera baru kehidupan kita disana, kita akan beranak cucu, dan kita akan melihat anak cucu kita berlarian di taman, bernyanyi dengan desiran angin kicauan burung dan menari bersama bunga-bunga serta rerumputan di taman.
Disana akan tiba waktunya kita akan dijemput satu persatu oleh Sang Pencipta, kita akan dibaringkan bersebelahan dikelilingi bunga-bunga yang bermekaran. Dan apa yang dipersatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia.
Untuk terakhir kalinya aku berjanji, aku tidak akan mengecewakanmu, aku tidak akan pernah lagi membuat retakan dalam kaca itu, aku akan menumbuhkan kembali pohon yang telah aku pangkas itu meskipun sulit, aku akan menambahkan minyak dalam buli-buli ini supaya lentera itu tetap terang sampai titik kesempurnaan.









Patrick Ganang Bimantara
                                &

                     Anggraeni Pratama Indrianto

Senin, 02 Desember 2013

Bangun Kepercayaanmu Untuk Orang Lain Sebelum Dirimu Menyesal

Sepandai-pandainya seorang menyembunyikan kebusukan itu pasti akan tercium juga oleh orang. Setidaknya itulah yang aku alami saat ini, terlalu busuk hal yang aku sembunyikan. Aku telah membuat kesalahan tanpa aku mau memperbaiki kesalahan itu. Salah satu faktornya adalah aku takut mengungkapkannya, aku takut kehilangan lentera itu lagi. Lentera itu kini kian meredup karena aku terlalu besar menyalakannya. Tak mungkin aku akan menyalakan lentera yang telah aku padamkan tanpa aku membawa sebuah api.
Pohon itu tumbuh sedikit demi sedikit, mulai dari akar yang akan semakin erat mencekram bumi, berlanjut ke batang pohong yang kian gagah dan kuat menjulang ke angkasa, berujung ke dedaunan yang kian melebat merimbuni tanah. Buah……? lalu kemanakah buah itu pergi? Apakah yang akan terjadi saat aku memangkas pohon itu? Akankah buah yang aku idam-idamkan akan bermunculan dan sedap rasanya? Seperti sebuah pohon yang tumbuh perlahan itulah kepercayaan seseorang, bukan seperti meubel yang dapat dibuat dengan waktu yang singkat. Sepercik pupuk harapan yang kini kian memudar dan tak mungkin bisa lebih baik seperti sedia kala. Aku telah mencoreng harapan seorang wanita yang amat mencintaiku.
Tapi satu pandanganku satu tujuanku, aku ingin memperbaiki semua ini, aku berniat menebus semua kesalahanku di masa lampau. Hari-hari yang sulit yang engkau alami, aku ingin mengikutinya. Kita bukan lagi dua, melainkan satu. Bagaimanapun itu aku siap menerima konsekwensi darimu. Aku disini enggan berjalan tanpa seorang pendamping. Aku bukan seorang yang mampu menerima sebuah keadaan dengan mudahnya. Aku adalah seorang yang mempunyai tanggung jawab yang harus aku jalani. Oleh karena itu aku akan mempertanggung jawabkan semua batu yang telah aku hujatkan kepadamu, semua pedang yang aku tancapkan jauh kedalam hatimu dan mata panah yang telah aku luncurkan menembus jantungmu.
Kita belum terlambat, jangan kau hiraukan celotehan orang-orang yang ingin menghancurkan relasi ini. Sumbat telingamu dengan tembok besi yang tak akan ditembus oleh mulut-mulut kejam yang akan mengacaukan jalan pikiranmu. Jika tidak engkau indahkan kata-kata ini, maka hancurlah kita. Kelak tak akan ada lagi cahaya yang cerah, pelangi yang indah dan matahari yang gagah. Jika waktu itu datang, maka aku yang akan menerangimu kembali, membawa kita dan keluarga kita keluar dari dalam kegelapan.

Jumat, 01 November 2013

Filosofi Sebuah Seni


Ketika seorang penyair menggoreskan tinta demi keindahan kata. Ketika musisi menggoreskan tinta demi keindahan nada. Ketika pelukis menggoreskan tinta demi keindahan panorama. Seketika semua akan lebih berarti, bermakna dan berwarna. Terukir berbagai makna dalam goresan-goresan tinta, entah itu saat bahagia, duka, bahkan saat kita sedang kosong. Seorang seniman mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk menunjukan dirinya, siapa dia, dari mana dia, dan apa latar belakangnya.
Begitu pula diri kita, bukankah kita dilahirkan sebagai seorang seniman? Kita diciptakan untuk mengukir sejarah, menuliskan riwayat hidup kita dan melantunkan nada-nada kehidupan. Tidak harus mewah dan megah, cukup dengan kita berjalan dengan kedua kaki kita, melihat dengan kedua mata kita dan berbuat dengan kedua tangan kita, itu sudah merupakan sejarah yang kita ukir. Sedikit kita menengok kedalam diri kita, melihat apa saja sejarah yang telah kita ukir dalam kehidupan kita ini. Sudahkah kita mencetak sejarah hebat dan tak akan pernah bias kita lupakan semasa hidup kita, dan nantinya kita akan menceritakan kepada anak cucu kita?
Berbeda jika kita hanya diam dan termenung dengan dunia kita, terdiam dengan dunia sekitar dan menyerah dengan keadaan. Siapa yang akan mengenal kita kelak? Bahkan kita tidak bisa mengenali diri kita sendiri. Jangan hidup seperti batu, yang tiap hari merenungi nasibnya karena bebannya yang berat. Namun jadilah seperti sebuah kapas, yang bisa keluar dari dirinya sendiri dan terbang bebas mengitari alam ini. Begitu indah jika kita dapat keluar dari diri kita dan merasakan udara segar saat kita terbebas dari semua beban hidup. Dan itulah yang seharusnya kita lakukan, buang jauh-jauh masalah yang membelenggu diri kita, melangkah maju tanpa ragu, siap tersandung tanpa harus jatuh, siap bangkit tanpa harus berdiri dengan kedua kaki dan siap mengukir sejarah-sejarah baru. 

My First

Sebuah lorong waktu dimana sebuah kehidupan dimulai. Semua telah dirancangkan sebelum kita hadir di dunia, semua telah berjalan sebelum kita dapat membuka mata. Entah itu nyata atau hanya sebuah khayalan, kehidupan manusia sesungguhnya hanyalah penyeimbang ekosistem di alam raya nan megah ini. Bagai mana seorang bayi dapat berjalan, bagaimana seorang anak dapat berlari dan bagai mana menjadi sepasang merpati yang akan terbang mengitari alam raya ini, terasa bebas lepas tanpa beban hidup.
Namun semua akan berubah ketika kita menemukan kehidupan kita. Sisi gelap kita yang akan menuntut kita untuk bertahan mencari sebuah titik cahaya terang. Aku yang kini sedang berjalan menapaki goa kehidupan masa lalu. Pencarian tiada henti, jatuh bangun yang terlalu menyiksaku. Pernah sesekali tersesat dan merasa harus berhenti melangkah menapaki lorong waktu kehidupanku. Saat itu pula aku menemukan sebuah lentera yang menemaniku menapaki sisi gelap dari pahitnya kehidupan yang harus dijalani setiap insan manusia. Sebuah lentera bukanlah sebuah cahaya abadi namun lentera itu adalah penunjuk arah, kemana kita akan menapakan kaki, kemana kita harus melangkah, dan kemana kita harus menghindar ketika ada sebuah permasalahan yang datang. Dan jika saatnya tiba lentera itu akan membiarkan dirinya redup kemudian padam dengan perlahan. Saat itulah aku harus berjalan sendirian kembali menuju kegelapan diriku sendiri, dan akan terus begitu sebelum aku menemukan terang abadi yang nantinya akan menuntunku menuju ke kedewasaan.
Namun kini semuanya telah berubah, 30 Oktober 2013, semuanya berawal. Kehidupanku yang baru, lenteraku yang akan membawaku keluar dari lorong kegelapan dalam jiwaku. Dialah yang akan menuntunku setapak demi setapak, menuntunku melewati lorong-lorong gelap, menerangi dengan cahaya kehidupannya. Dia bersinah megah bagai cahaya mentari yang tak akan pernah redup jika aku tidak menutup mataku. Aku bisa keluar dari kegelapanku dan kini aku bisa melihat setitik cahaya yang memancar dari ujung lorong, entah itu lentera yang baru, entah itu adalah jalan keluar dari lorongku. Jika lentera ini tidak redup di tengah jalan maka lentera inilah yang akan menjadi terang dalam hidupku kelak.