Sepandai-pandainya seorang menyembunyikan kebusukan
itu pasti akan tercium juga oleh orang. Setidaknya itulah yang aku alami saat
ini, terlalu busuk hal yang aku sembunyikan. Aku telah membuat kesalahan tanpa
aku mau memperbaiki kesalahan itu. Salah satu faktornya adalah aku takut
mengungkapkannya, aku takut kehilangan lentera itu lagi. Lentera itu kini kian
meredup karena aku terlalu besar menyalakannya. Tak mungkin aku akan menyalakan
lentera yang telah aku padamkan tanpa aku membawa sebuah api.
Pohon itu tumbuh sedikit demi sedikit, mulai dari
akar yang akan semakin erat mencekram bumi, berlanjut ke batang pohong yang
kian gagah dan kuat menjulang ke angkasa, berujung ke dedaunan yang kian
melebat merimbuni tanah. Buah……? lalu kemanakah buah itu pergi? Apakah yang
akan terjadi saat aku memangkas pohon itu? Akankah buah yang aku idam-idamkan
akan bermunculan dan sedap rasanya? Seperti sebuah pohon yang tumbuh perlahan
itulah kepercayaan seseorang, bukan seperti meubel yang dapat dibuat dengan
waktu yang singkat. Sepercik pupuk harapan yang kini kian memudar dan tak
mungkin bisa lebih baik seperti sedia kala. Aku telah mencoreng harapan seorang
wanita yang amat mencintaiku.
Tapi satu pandanganku satu tujuanku, aku ingin
memperbaiki semua ini, aku berniat menebus semua kesalahanku di masa lampau.
Hari-hari yang sulit yang engkau alami, aku ingin mengikutinya. Kita bukan lagi
dua, melainkan satu. Bagaimanapun itu aku siap menerima konsekwensi darimu. Aku
disini enggan berjalan tanpa seorang pendamping. Aku bukan seorang yang mampu
menerima sebuah keadaan dengan mudahnya. Aku adalah seorang yang mempunyai
tanggung jawab yang harus aku jalani. Oleh karena itu aku akan mempertanggung
jawabkan semua batu yang telah aku hujatkan kepadamu, semua pedang yang aku
tancapkan jauh kedalam hatimu dan mata panah yang telah aku luncurkan menembus
jantungmu.
Kita belum terlambat, jangan kau hiraukan celotehan
orang-orang yang ingin menghancurkan relasi ini. Sumbat telingamu dengan tembok
besi yang tak akan ditembus oleh mulut-mulut kejam yang akan mengacaukan jalan
pikiranmu. Jika tidak engkau indahkan kata-kata ini, maka hancurlah kita. Kelak
tak akan ada lagi cahaya yang cerah, pelangi yang indah dan matahari yang gagah.
Jika waktu itu datang, maka aku yang akan menerangimu kembali, membawa kita dan
keluarga kita keluar dari dalam kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar