Senin, 02 Desember 2013

Bangun Kepercayaanmu Untuk Orang Lain Sebelum Dirimu Menyesal

Sepandai-pandainya seorang menyembunyikan kebusukan itu pasti akan tercium juga oleh orang. Setidaknya itulah yang aku alami saat ini, terlalu busuk hal yang aku sembunyikan. Aku telah membuat kesalahan tanpa aku mau memperbaiki kesalahan itu. Salah satu faktornya adalah aku takut mengungkapkannya, aku takut kehilangan lentera itu lagi. Lentera itu kini kian meredup karena aku terlalu besar menyalakannya. Tak mungkin aku akan menyalakan lentera yang telah aku padamkan tanpa aku membawa sebuah api.
Pohon itu tumbuh sedikit demi sedikit, mulai dari akar yang akan semakin erat mencekram bumi, berlanjut ke batang pohong yang kian gagah dan kuat menjulang ke angkasa, berujung ke dedaunan yang kian melebat merimbuni tanah. Buah……? lalu kemanakah buah itu pergi? Apakah yang akan terjadi saat aku memangkas pohon itu? Akankah buah yang aku idam-idamkan akan bermunculan dan sedap rasanya? Seperti sebuah pohon yang tumbuh perlahan itulah kepercayaan seseorang, bukan seperti meubel yang dapat dibuat dengan waktu yang singkat. Sepercik pupuk harapan yang kini kian memudar dan tak mungkin bisa lebih baik seperti sedia kala. Aku telah mencoreng harapan seorang wanita yang amat mencintaiku.
Tapi satu pandanganku satu tujuanku, aku ingin memperbaiki semua ini, aku berniat menebus semua kesalahanku di masa lampau. Hari-hari yang sulit yang engkau alami, aku ingin mengikutinya. Kita bukan lagi dua, melainkan satu. Bagaimanapun itu aku siap menerima konsekwensi darimu. Aku disini enggan berjalan tanpa seorang pendamping. Aku bukan seorang yang mampu menerima sebuah keadaan dengan mudahnya. Aku adalah seorang yang mempunyai tanggung jawab yang harus aku jalani. Oleh karena itu aku akan mempertanggung jawabkan semua batu yang telah aku hujatkan kepadamu, semua pedang yang aku tancapkan jauh kedalam hatimu dan mata panah yang telah aku luncurkan menembus jantungmu.
Kita belum terlambat, jangan kau hiraukan celotehan orang-orang yang ingin menghancurkan relasi ini. Sumbat telingamu dengan tembok besi yang tak akan ditembus oleh mulut-mulut kejam yang akan mengacaukan jalan pikiranmu. Jika tidak engkau indahkan kata-kata ini, maka hancurlah kita. Kelak tak akan ada lagi cahaya yang cerah, pelangi yang indah dan matahari yang gagah. Jika waktu itu datang, maka aku yang akan menerangimu kembali, membawa kita dan keluarga kita keluar dari dalam kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar