Ketika
seorang penyair menggoreskan tinta demi keindahan kata. Ketika musisi
menggoreskan tinta demi keindahan nada. Ketika pelukis menggoreskan tinta demi
keindahan panorama. Seketika semua akan lebih berarti, bermakna dan berwarna. Terukir
berbagai makna dalam goresan-goresan tinta, entah itu saat bahagia, duka,
bahkan saat kita sedang kosong. Seorang seniman mempunyai caranya
sendiri-sendiri untuk menunjukan dirinya, siapa dia, dari mana dia, dan apa
latar belakangnya.
Begitu
pula diri kita, bukankah kita dilahirkan sebagai seorang seniman? Kita diciptakan
untuk mengukir sejarah, menuliskan riwayat hidup kita dan melantunkan nada-nada
kehidupan. Tidak harus mewah dan megah, cukup dengan kita berjalan dengan kedua
kaki kita, melihat dengan kedua mata kita dan berbuat dengan kedua tangan kita,
itu sudah merupakan sejarah yang kita ukir. Sedikit kita menengok kedalam diri
kita, melihat apa saja sejarah yang telah kita ukir dalam kehidupan kita ini.
Sudahkah kita mencetak sejarah hebat dan tak akan pernah bias kita lupakan
semasa hidup kita, dan nantinya kita akan menceritakan kepada anak cucu kita?
Berbeda
jika kita hanya diam dan termenung dengan dunia kita, terdiam dengan dunia
sekitar dan menyerah dengan keadaan. Siapa yang akan mengenal kita kelak? Bahkan
kita tidak bisa mengenali diri kita sendiri. Jangan hidup seperti batu, yang
tiap hari merenungi nasibnya karena bebannya yang berat. Namun jadilah seperti
sebuah kapas, yang bisa keluar dari dirinya sendiri dan terbang bebas mengitari
alam ini. Begitu indah jika kita dapat keluar dari diri kita dan merasakan udara
segar saat kita terbebas dari semua beban hidup. Dan itulah yang seharusnya
kita lakukan, buang jauh-jauh masalah yang membelenggu diri kita, melangkah
maju tanpa ragu, siap tersandung tanpa harus jatuh, siap bangkit tanpa harus
berdiri dengan kedua kaki dan siap mengukir sejarah-sejarah baru.