Jumat, 01 November 2013

Filosofi Sebuah Seni


Ketika seorang penyair menggoreskan tinta demi keindahan kata. Ketika musisi menggoreskan tinta demi keindahan nada. Ketika pelukis menggoreskan tinta demi keindahan panorama. Seketika semua akan lebih berarti, bermakna dan berwarna. Terukir berbagai makna dalam goresan-goresan tinta, entah itu saat bahagia, duka, bahkan saat kita sedang kosong. Seorang seniman mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk menunjukan dirinya, siapa dia, dari mana dia, dan apa latar belakangnya.
Begitu pula diri kita, bukankah kita dilahirkan sebagai seorang seniman? Kita diciptakan untuk mengukir sejarah, menuliskan riwayat hidup kita dan melantunkan nada-nada kehidupan. Tidak harus mewah dan megah, cukup dengan kita berjalan dengan kedua kaki kita, melihat dengan kedua mata kita dan berbuat dengan kedua tangan kita, itu sudah merupakan sejarah yang kita ukir. Sedikit kita menengok kedalam diri kita, melihat apa saja sejarah yang telah kita ukir dalam kehidupan kita ini. Sudahkah kita mencetak sejarah hebat dan tak akan pernah bias kita lupakan semasa hidup kita, dan nantinya kita akan menceritakan kepada anak cucu kita?
Berbeda jika kita hanya diam dan termenung dengan dunia kita, terdiam dengan dunia sekitar dan menyerah dengan keadaan. Siapa yang akan mengenal kita kelak? Bahkan kita tidak bisa mengenali diri kita sendiri. Jangan hidup seperti batu, yang tiap hari merenungi nasibnya karena bebannya yang berat. Namun jadilah seperti sebuah kapas, yang bisa keluar dari dirinya sendiri dan terbang bebas mengitari alam ini. Begitu indah jika kita dapat keluar dari diri kita dan merasakan udara segar saat kita terbebas dari semua beban hidup. Dan itulah yang seharusnya kita lakukan, buang jauh-jauh masalah yang membelenggu diri kita, melangkah maju tanpa ragu, siap tersandung tanpa harus jatuh, siap bangkit tanpa harus berdiri dengan kedua kaki dan siap mengukir sejarah-sejarah baru. 

My First

Sebuah lorong waktu dimana sebuah kehidupan dimulai. Semua telah dirancangkan sebelum kita hadir di dunia, semua telah berjalan sebelum kita dapat membuka mata. Entah itu nyata atau hanya sebuah khayalan, kehidupan manusia sesungguhnya hanyalah penyeimbang ekosistem di alam raya nan megah ini. Bagai mana seorang bayi dapat berjalan, bagaimana seorang anak dapat berlari dan bagai mana menjadi sepasang merpati yang akan terbang mengitari alam raya ini, terasa bebas lepas tanpa beban hidup.
Namun semua akan berubah ketika kita menemukan kehidupan kita. Sisi gelap kita yang akan menuntut kita untuk bertahan mencari sebuah titik cahaya terang. Aku yang kini sedang berjalan menapaki goa kehidupan masa lalu. Pencarian tiada henti, jatuh bangun yang terlalu menyiksaku. Pernah sesekali tersesat dan merasa harus berhenti melangkah menapaki lorong waktu kehidupanku. Saat itu pula aku menemukan sebuah lentera yang menemaniku menapaki sisi gelap dari pahitnya kehidupan yang harus dijalani setiap insan manusia. Sebuah lentera bukanlah sebuah cahaya abadi namun lentera itu adalah penunjuk arah, kemana kita akan menapakan kaki, kemana kita harus melangkah, dan kemana kita harus menghindar ketika ada sebuah permasalahan yang datang. Dan jika saatnya tiba lentera itu akan membiarkan dirinya redup kemudian padam dengan perlahan. Saat itulah aku harus berjalan sendirian kembali menuju kegelapan diriku sendiri, dan akan terus begitu sebelum aku menemukan terang abadi yang nantinya akan menuntunku menuju ke kedewasaan.
Namun kini semuanya telah berubah, 30 Oktober 2013, semuanya berawal. Kehidupanku yang baru, lenteraku yang akan membawaku keluar dari lorong kegelapan dalam jiwaku. Dialah yang akan menuntunku setapak demi setapak, menuntunku melewati lorong-lorong gelap, menerangi dengan cahaya kehidupannya. Dia bersinah megah bagai cahaya mentari yang tak akan pernah redup jika aku tidak menutup mataku. Aku bisa keluar dari kegelapanku dan kini aku bisa melihat setitik cahaya yang memancar dari ujung lorong, entah itu lentera yang baru, entah itu adalah jalan keluar dari lorongku. Jika lentera ini tidak redup di tengah jalan maka lentera inilah yang akan menjadi terang dalam hidupku kelak.